Perdalam Prinsip Manajemen Risiko

oleh Elzami Haqie, diterbitkan pada 2021-09-08 09:09:36
Galeri Berita Utama Liputan Utama



 

Jakarta, 7 Agustus 2021 - Berdasarkan hasil rapat Komite Audit pada (18/8) lalu, terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan dalam manajemen risiko Kementerian Keuangan. Salah satunya yaitu manajemen risiko masih dianggap terlalu mekanis. Sebagaimana penuturan Staf Ahli Bidang OBTI sekaligus Komite Audit Kemenkeu Sudarto, bahwa penerapan KMK Nomor 577/KMK.01/2019 terkait manajemen risiko di lingkungan Kementerian Keuangan sangat mekanistik. Hal ini menyebabkan perubahan-perubahan yang memunculkan risiko baru tidak tertangkap oleh manajemen risiko Kemenkeu. Sehingga manajemen risiko Kemenkeu perlu dikembangkan agar lebih dinamis dan responsif terhadap perubahan.

Berangkat dari hal tersebut, pagi ini (7/9), Inspektorat Jenderal mengadakan acara “Coffee Morning in Risk Management” dengan mengangkat tema elaborasi prinsip-prinsip manajemen risiko. Acara ini diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi Zoom Meetings dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan. Acara pagi ini, mengundang Risk Director Bank KB Bukopin Iwan Dharmawan sebagai narasumber dan Inspektur VII Alexander Zulkarnain sebagai moderator. Alex mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk memberikan perspektif dan pandangan lebih luas terkait manajemen risiko.

Mengawali acara, Irjen Kemenkeu Awan Nurmawan Nuh mengatakan bahwa prinsip adalah hal mendasar atau fondasi yang penting. Sehingga harus dipahami secara mendalam terlebih prinsip-prinsip manajemen risiko. “Bagaimana menjadi trusted advisor kalo kita tidak bisa punya view mendalam terkait manajemen risiko,” ungkapnya.

Menurutnya pemahaman prinsip manajemen risiko menjadi landasan paradigma akan manajemen risiko yang benar dan efektif. Bukan hanya sekedar mengerti saja namun juga harus paham. Sehingga diharapkan para pegawai khususnya di lingkungan Inspektorat Jenderal benar-benar paham akan prinsip-prinsip manajemen risiko.

Di sesi pemaparan, Iwan memberikan penjelasan terkait penerapan manajemen risiko dari sisi perbankan yang menggunakan framework yang terdiri dari empat pilar. Empat pilar tersebut antara lain pengawasan aktif dari direksi dan komisaris (Active Supervision from BOC dan BOD), kecukupan kebijakan dan prosedur dan limit risiko (Adequacy of Risk Management Policies & Risk Limit), kecukupan penerapan manajemen risiko (Adequacy of Risk Management Implementation) dan sistem pengendalian internal (Internal Control System).

Iwan juga menjelaskan beberapa risiko yang dipertimbangkan di perbankan diantaranya credit risk, market risk liquidity risk operational risk, legal risk, reputation risk, strategic risk dan compliance risk. Selain itu, jenis risiko lainnya yaitu rate of return risk dan investment risk untuk bank syariah dan intra group transaction risk dan insurance risk untuk financial conglomerates. Hal yang menarik terkait manajemen risiko di dunia perbankan adalah terdapat rapor berupa risk based bank rating (RBBR) yang dilihat dari empat faktor yaitu good corporate governance, risk profile, earnings, dan capital.



ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN