Merawat Jasmani, Harta Paling Berharga di Masa Pandemi

oleh Elzami Haqie, diterbitkan pada 2021-07-23 08:28:39
Berita Utama Liputan Khusus


Jakarta, 23 Juli 2021 – Saat ini, Indonesia tengah menghadapi badai Covid-19 yang begitu besar. Penambahan kasus harian terus melonjak bahkan sempat menyentuh angka 58.000 kasus per harinya. Selain menerapkan 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas), perlu juga menjaga daya tahan tubuh untuk meminimalisasi risiko penularan Covid-19. Hal tersebut bisa dicapai dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan olahraga rutin. Pagi ini, Inspektorat Jenderal mengadakan webinar Kesehatan Jasmani di Masa Pandemi sebagai langkah meningkatkan awareness masyarakat terkait PHBS dan pentingnya olahraga.

Inspektur Jenderal Sumiyati dalam sambutannya juga menekankan pentingnya kesehatan sebagai harta yang paling berharga di masa pandemi. Seperti yang diketahui, penanganan penyakit Covid-19 membutuhkan banyak sumber daya. Selain dari segi biaya, tekanan yang begitu besar terutama dirasakan para tenaga kesehatan yang menghadapi langsung para penderita. Apabila jumlah penderita terus meningkat tajam dan tidak sebanding dengan jumlah tenaga kesehatan, dikhawatirkan dapat meruntuhkan sistem kesehatan negara. Untuk itulah kesehatan diri harus benar-benar dijaga.

Edukasi mengenai kesehatan jasmani tampaknya menjadi kebutuhan tiap individu di masa pandemi. Jika saat sebelum pandemi tiap orang dapat berolahraga bebas, kini kegiatan olahraga harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk meminimalisasi kontak fisik. Dengan demikian muncul pertanyaan seperti, apakah olah raga yang tepat? dan bagaimana melaksanakan olahraga yang benar di masa pandemi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, webinar pagi ini menghadirkan spesialis kesehatan olahraga dr.Rachmad Wishnu Hidayat, SpKO.

Pembatasan fisik dengan anjuran untuk tinggal di rumah tentunya mengurangi mobilitas. Hal ini kerap kali berdampak pada semakin menurunnya motivasi untuk berolahraga. Tidak hanya permasalahan olahraga, kombinasi dengan pola makan yang tidak tepat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit komorbid lainnya. Padahal riset telah menunjukkan bahwa rutin berolahraga dengan frekuensi sedang dapat menurunkan risiko tertular infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) sebesar 40-50%. Berbanding terbalik dengan kebiasaan tidak baik yang justru dapat memperparah kondisi tubuh.

Dr.Rachmad menjabarkan secara detail berbagai latihan fisik yang data dilakukan di masa pandemi. Tidak hanya latihan secara umum, namun juga latihan-latihan yang didesain secara spesifik bagi penyakit tertentu seperti diabetes, jantung koroner, atau asma. Sedangkan untuk mengatasi masalah keterbatasan mobilitas. Dr. Rachmad merekomendasikan berbagai kegiatan di rumah yang setara dengan berbagai olahraga. Tidak berhenti di situ, dia juga menjelaskan pola makan yang tepat serta kiat menjaga kesehatan rohani yang rupanya turut mempengaruhi kesehatan jasmani. Penjelasan selengkapnya dapat disimak kembali melalui kanal Youtube Itjen Kemenkeu.

Apabila semua usaha untuk menjaga dan merawat fisik telah dilakukan, maka tinggal doa untuk melengkapinya. Selain itu, harapan besar bagi Indonesia untuk menyudahi pandemi adalah melalui vaksin. Inspektur Jenderal Sumiyati berharap pula pada masyarakat untuk aktif menyukseskan program vaksinasi demi pulihnya bangsa ini.



ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN